Minggu, 11 Maret 2012

Salam ‘Metal’ Satu Jari (salam Tauhid)



Mereka bergabung untuk berdakwah lewat beragam genre musik.

JAKARTA -- Lapangan Bulungan, Jakarta Selatan, berselimut hitam. Para pria berbaju gelap memadat di sana.

Di depan, sebuah panggung besar berdiri megah dengan membentangkan poster besar bertuliskan ‘Approach Deen, Avoid Sins’.

Sesekali terdengar teriakan lantang menggemuruhkan asma Allah. ”Allahu Akbar, Allahu Akbar”.

Serentak pula, mereka bersama menegakkan telunjuk dan mengarahkannya ke atas langit.

Tabligh akbar? Maaf, tebakan Anda salah. Karena setelah teriakan lantang itu, kita akan disuguhi lagu-lagu kencang, bahkan bisa dibilang garang.

Hari itu, sekitar 14 band berkumpul di Bulungan. Di antara beragam genre musik yang ikut serta, band metal tampak mendominasi.

Di sana, Tengkorak, Purgatory, The Roots of Madinah, hingga Qishosh menampilkan aksinya.

Namun, berbeda dengan stigma yang kerap menyertai kelompok itu, mereka justru menyuarakan antitesis. ”Tujuan kami hanya membuat pilihan.

Sebuah pilihan yang benar ketika saat ini pilihannya cuma satu, yaitu setan semua,” ucap Ombat atau Mohammad Hariadi Nasution, vokalis band Tengkorak yang berdiri sejak tahun 1993 ini.

Berawal dari acara Urban Garage Festival yang memberikan uang hasil penjualan tiket dan merchandise untuk dana kemanusiaan Palestina itu.

Ombat dan teman-teman sepakat mengadakan acara metal yang beda. Sebuah konser musik dengan muatan syiar yang sangat kental di sana.

Awalnya, acara tersebut hanya diikuti beberapa band. Namun, setelah dipublikasikan, band-band berpikiran serupa untuk turut terlibat.

 ”Satu hal yang saya petik, begitu memasyarakatnya alkohol hingga kami tidak tahu band-band itu di jalur yang sama dengan kami,” ungkap Bonty Umbara, Purgatory.

Cibiran tak urung mereka terima karena dianggap melawan arus. Dunia  underground , khususnya metal, memang identik dengan minuman keras, seks bebas, narkoba, hingga penyembahan setan.

Bonty tak menyangkal hal tersebut. ”Bohong jika ada yang bilang metal itu jauh dari  drugs dan alkohol, tetapi tidak semuanya seperti itu saat ini,” ungkap Bonty yang juga kakak dari Anggi, personel Purgatory.

Anti-kemapanan

Sutradara video klip dan film pendek ini juga sempat bingung melihat pakem metal yang menolak kemapanan dan sistem.

Anehnya, mereka justru menciptakan sebuah sistem yang memuja minuman keras, seks bebas, dan ”Metal yang tadinya militan, saat ini tidak lagi militan karena  kecemplung ke dunia hedonis.

Kami ingin membuat metal menjadi militan lagi, tapi militan yang benar,” tambah Ombat.

Bagi Bonty, acara ini dibuat bukan sekadar untuk mengubah wajah metal atau dunia  underground.

Tetapi juga mencoba untuk menyadarkan anak-anak muda yang mulai mengenal metal untuk tidak terjerumus ke dunia kelam yang pernah mereka lakoni.

”Kami hanya ingin menyelamatkan masa depan anak-anak ini. Moral bangsa bisa rusak kalau anak mudanya jauh dari agama,” ungkapnya.

Maka, satu-satunya cara untuk menjauhi hal-hal itu adalah dengan kembali ke fitrah, yaitu Islam.

”Bukan kami band-band ini yang melarang, tetapi Islam yang mengharamkan,” tutur Bonty dengan nada tegas.

‘Misi’ itu juga yang menghadirkan ‘salam metal’ yang berbeda. Bukan dua, tiga jari seperti dulu, melainkan satu jari.

Namun, kata Ombat, ”Salah kalau dibilang komunitas metal satu jari, yang benar salam satu jari.  Lha wong yang ikut bukan hanya metal, ada rap, rock, serta  grind core.

” Di mata Luthfi, anggota komunitas Punk Muslim, acara seperti inilah yang ia tunggu.

Komunitas yang dibentuk oleh almarhum Budi Choiruni alias Buce ini berupaya mengajak anak-anak punk yang sebagian besar Muslim untuk kembali ke Islam.

Selama ini, diakui Luthfi, anggota Punk Muslim sangat sulit menembus hati kawan-kawan lain yang beraliran punk.

”Punk ya punk, Muslim ya Muslim,  ngapain dicampur aduk  sih ,” ujar Luthfi menirukan ucapan kawannya.

Namun, tak ada kata menyerah untuk melangkah ke jalan kebaikan. Seperti diungkap Tufail Al Ghifari, pentolan The Roots of Madinah.

”Kita semua memiliki visi dan misi yang sama, menggunakan musik sebagai media untuk menyadarkan anak-anak muda.”

Dakwah Jalur Lambat

Band metal yang dekat dengan segala stigmanya membuat gelisah Mohammad Hariadi Nasution alias Ombat, vokalis band Tengkorak yang beraliran  grind core .

Dia pun sempat menelaah secara mendetail tentang sejarah musik metal yang dekat dengan segala ‘racun dunia’ itu.

Berdasarkan studinya, konsep satanisme ataupun penyembahan setan dalam lirik maupun saat tampil di panggung hanyalah ‘kreativitas’ dari para band-band metal terdahulu.

Lantaran band metal terus berkembang dan makin banyak, sebagian orang pun ‘memelintirnya’ sehingga menganut paham seperti itu.

”Ini sebenarnya penjajahan cara baru yang digunakan zionis dan kaum sekuler untuk menjauhkan anak-anak muda dari agama,”ungkap Ombat.

Setidaknya, ini terbukti ketika mereka membuat konser tersebut, tapi justru menuai caci maki.

”Mereka mencaci maki kami yang berusaha mendekatkan kawan-kawan dengan Islam, padahal mereka sendiri Islam. Ini terbukti kalau mereka lebih mengerti metal daripada agamanya sendiri,” tuturnya.

Akhirnya, setelah dikorelasi dan dipelajari, ia dan kawan-kawan yang tergabung dalam komunitas ‘Salam Satu Jari’ memutuskan tidak lagi mengangkat dua jari, tetapi satu jari.

Bagi Ombat sendiri, makna satu jari lebih kepada ketauhidan. ”Salam satu jari intinya kita selaku umat Muslim selalu ingat akan Allah Yang Maha Esa,  laaillaha illallah , bahwa kita hanya membela Islam tidak yang lain,” ujarnya.

Untuk Andri S, yang memiliki nama panggung Salameh Hamzah, konser musik yang mereka lakukan bisa dibilang dakwah jalur lambat.

”Cara seperti ini tak bisa langsung mengena, tetapi secara bertahap,” ungkapnya.

Bagi Ombat, hanya dengan cara inilah mereka bisa menyadarkan kaum muda underground dari segala pengaruh buruk.

Bila suara pemuka agama tidak lagi didengar, sudah saatnya mereka sendiri yang harus bergerak.

”Sebenarnya ini strategi perang ideologi dan musik menjadi wadah untuk melawan sekaligus bertahan,” pungkasnya.

Semoga bermanfaat.


Kamis, 01 Maret 2012

Kisah seorang Yahudi yang mengislamkan jutaan orang

Siraaj



(Arrahmah.com) - Di suatu tempat di Perancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berkebangsaan Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim, ia adalah orang tua yang menjual makanan di sebuah toko makanan.

Toko tersebut terletak di sebuah apartemen dimana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak bernama "Jad" berumur 7 tahun.

Jad si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi toko tempat dimana Ibrahim bekerja untuk membeli kebutuhan rumah, setiap kali hendak keluar dari toko –dan Ibrahim dianggapnya lengah– Jad selalu mengambil sepotong cokelat milik Ibrahim tanpa seizinnya.

Pada suatu hari usai belanja, Jad lupa tidak mengambil cokelat ketika mau keluar, kemudian tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong cokelat sebagaimana kebiasaannya.

Jad kaget, karena ia mengira bahwa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orangtuanya.

Ibrahim pun menjawab: "Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mau keluar dari sini, ambillah sepotong cokelat, itu adalah milikmu!" Jad pun menyetujuinya dengan penuh kegirangan.

Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi.

Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berkonsultasi kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara acak.

Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua lembar darinya, menutupnya dan mulai memberikan nasehat dan solusi dari permasalahan Jad.

Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi.

14 tahun berlalu, kini Jad telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim saat itu berumur 67 tahun.

Ibrahim pun akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya dimana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berkonsultasi kepadanya.

Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi.

Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika putranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak, Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, karena Ibrahim lah yang selama ini memberikan solusi dari semua permasalahannya,  dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya.

Hari-haripun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak. Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya.

Jad lalu mencoba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu berisikan tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak bisa membacanya.

Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berkebangsaan Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua lembar dari kitab tersebut.

Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan acak saat ia datang berkonsultasi.

Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua lembar yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu.

Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan solusi kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut.

Jad pun terhenyak kaget, kemudian dengan penuh rasa penasaran ini bertanya, "Buku apa ini !?"

Ia menjawab : "Ini adalah Al-Qur'an, kitab sucinya orang Islam!"

Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub,

Jad lalu kembali bertanya: "Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?"

Temannya menjawab : "Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!"

Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!

Jadullah seorang Muslim.
Kini Jad sudah menjadi seorang muslim, kemudian ia mengganti namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh problema hidupnya selama ini.

Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi menyebarkan ajaran Al-Qur'an.

Mulailah Jadullah mempelajari Al-Qur'an serta memahami isinya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropa hingga berhasil mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.

Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur'an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia.

Pada saat matanya tertuju pada gambar benua afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat :
((اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ...!!))
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!!..." (QS. An-Nahl; 125)

Iapun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya.

Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang diantaranya adalah Kenya, Sudan bagian selatan (yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya.

Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zolo, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya.

Akhir Hayat Jadullah
Jadullah Al-Qur'ani, seorang muslim sejati, da'i hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Jadullah wafat pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 45 tahun, beliau wafat dalam masa-masa berdakwah.

Kisah pun belum selesai
Ibu Jadullah Al-Qur'ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi.

Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah yaitu saat berumur 70 tahun.

Sang ibu bercerita bahwa –saat putranya masih hidup– ia menghabiskan waktu selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan putranya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi putranya untuk kembali menjadi Yahudi.

Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain karena Islamlah satu-satunya agama yang benar.

Kemudian yang menjadi pertanyaan: "Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?"
Jadullah Al-Qur'ani bercerita bahwa Ibrahim yang ia kenal selama 17 tahun tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata:

"Hai orang kafir!" atau "Hai Yahudi!" bahkan Ibrahim tidak pernah untuk sekedar berucap: "Masuklah agama islam!"

Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarinya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi.

Seorang tua muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya diskusi masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Qur’an.

Kemudian dari kesaksian DR. Shafwat Hijazi (salah seorang dai kondang Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas problematika Darfur serta solusi penanganan dari kristenisasi, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zolo.

Saat ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur’ani?, ia menjawab; tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur'ani.

Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani.

Dan Jadullah Al-Qur'ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berkebangsaan Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci.

Begitulah hikayat tentang Jadullah Al-Qur'ani, kisah ini merupakan kisah nyata yang penulis dapatkan kemudian penulis terjemahkan dari catatan Almarhum Syeikh Imad Iffat yang dijuluki sebagai "Syaikh Kaum Revolusioner Mesir".

Beliau adalah seorang ulama Al-Azhar dan anggota Lembaga Fatwa Mesir yang ditembak syahid dalam sebuah insiden di Kairo pada hari Jumat, 16 Desember 2011 silam.

Kisah nyata ini layak untuk kita renungi bersama di masa-masa penuh fitnah seperti ini. Di saat banyak orang yang sudah tidak mengindahkan lagi cara dakwah Qur'ani.

Mudah mengkafirkan, fasih mencaci, mengklaim sesat, menyatakan bid'ah, melaknat, memfitnah, padahal mereka adalah sesama muslim.

Dulu da'i-da'i kita telah berjuang mati-matian menyebarkan Tauhid dan mengislamkan orang-orang kafir, namun kenapa sekarang orang yang sudah Islam malah justru dikafir-kafirkan dan dituduh syirik?

Bukankah kita hanya diwajibkan menghukumi sesuatu dari yang tampak saja? Sedangkan masalah batin biarkan Allah yang menghukumi nanti.

Kita sama sekali tidak diperintahkan untuk membelah dada setiap manusia agar mengetahui kadar iman yang dimiliki setiap orang.

Mari kita renungi kembali surat Thaha ayat 44 yaitu Perintah Allah swt. kepada Nabi Musa dan Harun –'alaihimassalam– saat mereka akan pergi mendakwahi fir'aun. Allah berfirman,

((فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى))
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut."

Bayangkan, fir'aun yang jelas-jelas kafir laknatullah, namun saat dakwah dengan orang seperti ia pun harus tetap dengan kata-kata yang lemah lembut.

Lalu apakah kita yang hidup di dunia sekarang ini ada yang lebih Islam dari Nabi Musa dan Nabi Harun?

Atau adakah orang yang saat ini lebih kafir dari fir'aun sehingga Al-Qur'an pun merekam kekafirannya hingga kini? Lantas alasan apa bagi kita untuk tidak menggunakan dahwah dengan metode Al-Qur'an?

Yaitu dengan Hikmah, Nasehat yang baik, dan Diskusi menggunakan argumen yang kuat namun tetap sopan dan santun?

Maka dalam dakwah yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita agar mudah menyampaikan kebenaran Islam ini.

Oleh karenanya, jika sekarang kita dapati ada orang yang kafir, bisa jadi di akhir hayatnya Allah akan memberi hidayah kepadanya sehingga ia masuk Islam.

Bukankah Umar bin Khattab dulu juga pernah memusuhi Rasulullah? Namun Allah berkehendak lain, sehingga Umar pun mendapat hidayah dan akhirnya memeluk Islam.

Lalu jika sekarang ada orang muslim, bisa jadi di akhir hayatnya Allah mencabut hidayah darinya sehingga ia mati dalam keadaan kafir. Na'udzubillah tsumma Na'udzubillahi min Dzalik.

Karena sesungguhnya dosa pertama yang dilakukan iblis adalah sombong dan angkuh serta merasa diri sendiri paling suci sehingga tak mau menerima kebenaran Allah dengan sujud hormat kepada nabi Adam –'alaihissalam–.

Oleh karena itu, bisa jadi Allah mencabut hidayah dari seorang muslim yang tinggi hati lalu memberikannya kepada seorang kafir yang rendah hati. Segalanya tiada yang mustahil bagi Allah!

Marilah kita pertahankan akidah Islam yang telah kita peluk ini, dan jangan pernah mencibir ataupun "menggerogoti" akidah orang lain yang juga telah memeluk Islam serta bertauhid.

Kita adalah saudara seislam seagama. Saling mengingatkan adalah baik, saling melindungi akidah sesama muslim adalah baik.

Marilah kita senantiasa berjuang bahu-membahu demi perkara yang baik-baik saja.
Wallahu Ta'ala A'la Wa A'lam Bis-Shawab. 


Semoga bermanfaat.

FUI Ajak Umat Aksi Indonesia Tanpa Liberal





Forum Umat Islam mengajak semua elemen umat untuk turun dalam apel siaga Indonesia Tanpa Liberal yang akan berlangsung pada 9 Maret 2012.

Aksi yang akan menurunkan ribuan umat ini sedianya akan dimulai pada pukul 13.30 WIB di Bundaran HI, Jakarta. Lantas kenapa nama Indonesia Tanpa Liberal yang diambil?

“Karena aksi FUI tidak hanya menembak JIL. Kita menembak semua liberal dari mulai Liberal ekonomi, liberalisme politik, dan liberalisme agama,” kata Sekjen FUI Ustadz Muhammad Al Khaththath kepada Eramuslim.com, Selasa (28/2) di sela-sela deklarasi MIUMI.

Ia menambahkan bahwa gurita liberalisme kini sudah bercokol di segala bidang. Umat Islam harus bersatu menghadapi fenomena ini.

"Karena gagasan Liberal bahaya bagi bangsa Indonesia, khususnya Umat Islam," sambungnya.

Perihal JIL, Ustadz Muhammad Al Khaththath menyatakan JIL hanyalah satu elemen kecil liberalisme.

“JIL itu operator kecil dan sekarang tidak begitu dibutuhkan. Karena yang paling penting sekarang pikiran liberal itu sendiri,” tandasnya. 

Semoga bermanfaat.

FUI: Ganti SBY Dengan Habib Rizieq




 

Sekjen FUI, Ustadz Muhammad Al KhaththatH menyatakan rilis Deplu AS yang menetapkan JAT sebagai organisasi teroris internasional adalah bentuk akal-akalan Amerika.

“JAT hanya lokal kok, gak ada internasionalnya. Itu kan sudah kebohongan,” ujarnya saat ditemui Eramuslim.com, Selasa (28/2).

Menurutnya, Amerika akan membuat berbagai alasan untuk melestarikan hegemoninya dalam dunia Islam, termasuk di Indonesia.

“Pokoknya tujuan Amerika tetap ingin bercokol di Indonesia untuk menguasai kekayaan alam Indonesia baik freeport, New mont dan lain sebagainya.

Supaya dia puya alasan, dibikinlah JAT sebagai teroris internasional,” lanjutnya.

Amerika Serikat memang negara yang paling takut dengan ide daulah dan jihad yang selalu didengung-dengungkan oleh Ustadz Abu.

Mereka akan terus mencari tokoh yang akan dijadikan sasaran tembak untuk melegitimasi kehadirannya di Indonesia.

“Nanti Kalau ustadz Abu meninggal, Amerika akan mencari lagi selalu begitu,” tegasnya. Inilah lemahnya kepemimpinan nasional yang terjadi di Indonesia.

Pemerintahan SBY begitu mudah diintervensi oleh AS untuk mencokok para ulama di Indonesia.

“Makanya (SBY) harus diganti Habib Rizieq. Pilihan saya kalau Presiden hanya tiga saja: Habib Rizieq, Abu Bakar Ba’asyir, dan Abu Jibril itu saja. Yang lain saya tidak milih,” pungkasnya.

Semoga bermanfaat.