Jumat, 24 Februari 2012

LKG TPQ Solo Upgrade Guru Ngaji yang Hebat Mengajar, Berdakwah & Wirausaha

 



SOLO (voa-islam.com) - Lembaga Koordinasi Gerakan Taman Pendidikan Al-Qur'an (LKG TPQ) Solo Raya membuat terobosan dakwah dengan mencetak guru agama yang multitalent dengan tiga keahlian yang terpadu: hebat mengajar, berdakwah dan berwirausaha.

Untuk meningkatkan talenta para pengajar Al-Qur'an, LKG TPQ Solo Raya membuat gebrakan baru, di antaranya menggelar acara Talk Show Dunia TPQ bertema “Mencetak Ustadz-Ustadzah Hebat dan Dahsyat.” 

Acara ini akan digelar besok Ahad, 26 Februari 2012 pukul 08.00-12.00 WIB di Masjid Istiqlal Banyuanyar, Banjarsari, Ska.

Selain talkshow, acara itu juga dilengkapi dengan pembagian DUKU (Dakwah Untuk Kemaslahatan Umat) untuk para pengajar TPQ dan peluncuran Majalah “Mentari TPQ.” 

Majalah berslogan Mencetak Generasi Qurani ini dibagikan secara gratis, mengupas segala hal seputar TPA dan TPQ.

Narasumber ahli dalam acara yang akan diikuti oleh para ustadz dan ustadzah se-Solo Raya itu adalah Ustadz DR Muinudinillah Basri MA (Mudir Ma’had Ibnu Abbas Klaten) dan Ustadz Warsono Nurhadi (Koordinator Indonesia Islamic Bisnis Forum).
...mencetak guru Al-Qur'an yang multitalent dengan tiga keahlian yang terpadu: hebat mengajar, berdakwah dan berwirausaha...
Ustadz Warsono didaulat menyampaikan materi bertema “Mencetak Ustadz-Ustadzah Hebat Berwirausaha.” 

Sedangkan Ustadz Mu’in menyampaikan materi bertema “Mencetak Ustadz-Ustadzah yang hebat mengajar dan berdakwah.”
 
Ustadz Muhammad Sholikin, ketua panitia, berharap agar acara tersebut bisa menghasilkan para guru Al-Qur'an yang multitalent dengan tiga keahlian yang terpadu, antara lain mengajar, berdakwah dan berwirausaha. 

“Kita ingin berdakwah dengan selebar-lebarnya dan seluas-luasnya. Semoga bisa menjadi kontribusi dalam membangun karakter anak bangsa,” ujarnya dalam rilis yang diterima voa-islam.com, Jum’at (24/2/2012). 

Semoga bermanfaat.

Salahkan Koruptor, Bukan Rakyat

 





Terjadinya krisis energi dan keuangan bukanlah alasan dibalik kenaikkan harga BBM. Bukan pula akibat penggunaan BBM oleh rakyat.

Tapi krisis yang akhirnya membuat pemerintah menaikan harga BBM terjadi karena ulah para koruptor merampok uang rakyat.

Pernyataan itu ditegaskan Ustadz Fauzan Al Anshari menanggapi kenaikan hara BBM yang akan dilakukan SBY per April 2012.

“Jadi jika uang yang dikorup itu diselamatkan, maka uang itu akan kembali demi kepentingan rakyat,” tegasnya kepada Eramuslim.com, belum lama ini

Menurut Ketua Lembaga Pengkajian Syariat Islam ini selama tidak ada mark up yang dilakukan para pejabat maka disana juga tidak ada Korupsi. Dana yang ada bisa dipakai sebagai subsidi untuk rakyat.

“Tapi sekarang ini kan uang rakyat di-mark up lalu terjadi Krisis moneter. Anggaran kurang, lalu pemerintah mengurangi subsidi, kok yang disalahkan malah rakyat?” tanyanya.

Namun kenyataannya pemerintah justru menyalahkan rakyat yang terlalu menggunakan BBM dalam skala besar.

Padahal jika saja pemerintah bertindak tegas menghukum mati para koruptor, hal itu akan mengurangi secara signifikan kebocoran-kebocoran dana yang selama ini terjadi.

“Jadi jangan salahkan rakyat. Jika koruptor dihukum mati tidak perlu mengurangi subsidi BBM bagi menengah ke bawah,” pungkasnya.

Semoga bermanfaat.


KH.Kholil Ridwan : Indonesia Tanpa SEPILIS

 

Bilal


 
JAKARTA (Arrahmah.com) - Gerakan “Indonesia Tanpa JIL” yang berkembang di jejaring sosial dunia maya dan yang hendak menjadi gerakan aksi nyata di darat mendapat tanggapan positif.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Ahmad Kholil Ridwan mendukung Gerakan ‘Indonesia Tanpa JIL’ , bahkan lebih dari itu beliau mengusulkan nama gerakan tersebut bukan terbatas menyuarakan sikap penolakan terhadap JIL.
 
“Saya setuju tapi kalau bisa bukan tanpa JIL tetapi tanpa SEPILIS”kata Kiyai Kholil yang menerangkan bahwa sepilis adalah sekularisme, pluralism, dan liberalisme.
 
Kiyai Kholil menilai, bahwa JIL sesungguhnya telah lama tiada dalam pergerakannya, karena JIL sudah kehilangan pendanaannya. Jadi menurutnya tidak perlu mempersoalkan JIL sebagai lembaganya.
 
“JIL itukan sudah gak ada , yang kita tolak langsung liberalismenya saja, JIL hanya sebuah lembaga”ujarnya.
 
Tambah Dia, istilah sepilis sudah cukup dikenal oleh umat Islam, dan lebih berbahaya dari sekedar JIL itu sendiri.
 
“Jadi, saya usulkan namanya ‘Indonesia Tanpa SEPILIS’, karena lebih luas ” tandas Kiyai Kholil kepada arrahmah.com, Jakarta, Jum'at(24/2).
 
Seperti diketahui, penolakan sekelompok gerombolan preman terhadap FPI di Palangkaraya, dijadikan momentum oleh sebagian kelompok liberal untuk menolak keberadaan FPI dengan menggelar aksi di Bundaran HI.
 
Hal itu, membuat sebagian kaum muslimin merespon dengan memeberikan dukungan kepada FPI.

Selain itu, kelompok yang kebanyakan aktivis muslim dan memiliki akun di jejaring sosial twitter ini mendukung FPI dengan membuat hash tag #IndonesiaTanpaJIL.

Gerakan ini mengkampanyekan Indonesia bersih dari pemikiran JIL. Kelompok inipun membuat video berdurasi 32 detik yang di upload di youtube.

Dengan menggunakan icon Fauzi Baadila yang dikenal bermusuhan dengan pemikiran JIL, kelompok ini mengkampanyekan anti JIL.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 23 Februari 2012

FPI Paling Konsisten dalam Perjuangan

 


Shodiq Ramadhan 

H. Ali Badri (Ketua Gabungan Umat Islam Jawa Timur)

Front Pembela Islam (FPI) adalah suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang paling konsisten dalam perjuangan.

 
Saya lihat FPI, kalau hendak bergerak untuk menanggulangi kemaksiatan, tidaklah ngawur. Melainkan dengan terlebih dahulu berkoordinasi mulai dari tingkat RT, RW.

Tidak mendapat tanggapan, koordinasi dinaikkan ke Kepala Kelurahan, kemudian ke Camat. 

Tidak juga mendapat tanggapan dan tindakan, koordinasi  ditingkatkan ke Bupati/Walikota ataupun sampai tingkat Gubernur. 

Jika tetap tidak memperoleh tindak lanjut yang signifikan, FPI baru melangkah bertindak membereskan tempat-tempat praktik kemaksiatan, perjudian dan minuman keras yang sangat mengganggu masyarakat.

Kalau itu kemudian dilihat sebagai tindakan yang anarkhis, ya nggak betul itu. 

Banyak tindakan yang dilakukan pihak-pihak lain, yang sebenarnya ngawur dan lebih anarkhis dibanding dengan yang dilakukan FPI. Kenapa mereka tidak dituding telah melakukan tindakan anarkhis.

Kalau oknum FPI terbukti telah berbuat salah, tindak saja oknum itu,  dengan tindakan yang dibenarkan oleh hukum, bukan kemudian mendorong agar FPI sebagai lembaga untuk dibubarkan. 

Umpama Polisi saat ini sedang disidangkan anggota polisi di Jawa Timur karena terlibat pembunuhan. 

Betul demikian,  ada anggota polisi yang berbuat salah, diusut tuntas secara hukum. 

Jika terbukti bersalah, oknum polisi itu yang diganjar hukuman, bukan kemudian kepolisiannya sebagai lembaga yang mesti dibubarkan

Media massa baik cetak maupun elektronik di Indonesia, umumnya melihat miring terhadap FPI, dan telah menebarkan bibit kebencian terhadap FPI. 

Karena media massa ini, bisa dikatakan  95 % di miliki ataupun digawangi oleh pihak-pihak non Muslim.

Karena itu, mana pernah mereka meng-cover apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh FPI; seperti ketika terjadi bencana tsunami di Aceh. 

Ketika itu, FPI mendirikan tenda di Taman Makam Pahlawan (TMP) dan Tempat-tempat Pemakaman Umum (TPU); Sukarelawan FPI siang-malam bekerja menguburkan ratusan hingga ribuan mayat korban. 

Mereka tetap bertahan dan bekerja dengan gigih, tanpa pamrih untuk kemanusiaan hingga tuntas, tidak memperdulikan sukarelawan dari pihak lain yang telah menghentikan program pertolongannya.

Mereka media massa itu juga tidak pernah meng-cover yang dilakukan FPI disaat bencana gempa melanda Sumatra Barat, juga bantuan kemanusian ke Poso, Ambon serta dibanyak kesempatan yang lain.

Sekarang, terkait yang terjadi di Kalimantan Tengah. Fakta benar-benar telah diputar balikkan oleh mereka. 

Mana ada yang memberitakan secara benar tentang latar belakang Realita sosial; bahwa, masyarakat Kalimantan Tengah, dalam rangka mencari keadilan kemudian meminta bantuan advokasi (gratis) kepada FPI untuk menyelesaikan persoalan pemilikan tanah. 

Ketika bantuan itu hendak dilaksanakan, harus berhadapan dengan Rekayasa Sosial yang dibangun oleh “geng-geng” juga “preman” di sana, yang diantaranya ada “geng” narkoba, penjudi serta yang lain dari barisan kemaksiatan.

Bagian lain H. Ali Badri, secara khusus menilai pribadi KH. Habib Rizieq Shihab, Ketua Umum DPP Front Pembela Islam, sebagai pimpinan yang patut menjadi contoh. Dia pernah ditahan, tetapi menolak remisi yang ditawarkan.

Puluhan kali Dia ke Jawa Timur dan Madura dalam berbagai kesempatan memberikan pengajian. Tidak ada satu unsurpun di Jawa Timur ini yang menolak kehadirannya.  


Saya ikuti pengajiannya, juga berbagai tulisannya. Meyakinkan kami FPI, sejalan dengan kami untuk berjuang mewujudkan Islam yang Rahmatan lil ‘alamin.

MUI Jawa Timur

Karena itu, kata H. Ali Badri, semua LSM di Jawa Timur; tidak terbatas dari Gabungan Umat Islam Bersatu, tetapi juga diantaranya dari Anshor dan MUI, semua solid, memberi dukungan kepada FPI. 


Pernyataan dukungan itu, dari Anshor, dinyatakan sendiri oleh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Anshor  Jawa Timur, KH. Ja’far Shoddiq, demikian pula dari MUI, juga dinyatakan sendiri oleh Ketua MUI Jawa Timur KH. Abdushomad Buchori.

Secara terpisah berbicara di telepon, KH. Abdushomad Buchori, membenarkan, mendukung eksistensi FPI. 


Karena dalam gerak langkahnya selama ini, FPI, baik di tingkat pusat maupun di daerah khususnya Jawa Timur, aktif berkoordinasi dengan MUI. 

Dan yang lebih penting lagi FPI, tetap mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan menjadikan satu tujuan dari langkah perjuangannya adalah untuk menjaga keutuhan NKRI.

Pada bagian lain KH. Abdushomad Buchori mengungkap, MUI Jawa Timur hingga saat ini terus mendesak untuk terwujudnya fatwa haram (terlarang) terhadap aliran Syi’ah di Indonesia.


Selain juga disampaikan beberapa keprihatinan diantaranya, adanya rencana Presiden SBY hendak meminta maaf kepada keluarga korban pembantaian PKI di tahun 1965 dengan segala konsekuensinya.

Diungkapkan pula keprihatinan lain; tentang keberanian kaum gay dan lesbi berpawai di sebuah kota di  Madura. 


Bahkan, terdapat dua aktifis (sekaligus pelaku gay dan lesbi) dari lingkungan Universitas Airlangga Surabaya, telah lolos seleksi administratif sebagai calon anggota Komnas HAM.


Semoga bermanfaat.